PT. NEXT MERCURY INDONESIA
Puri Argomulyo Blok G no. 2, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga 50734, Jawa Tengah, INDONESIA

 nextmercury.com
 info@nextmercury.com
+62 298 325631
+628 5727 1737 88
+628 5727 1737 88
@nextmercurybot
nextmercury.indonesia



Survei IBM: Banyak Perusahaan Belum Siap Manfaatkan Jejaring Sosial
Author: Wiwiek Juwono/Berita Teknologi

Wednesday, October 12, 2011


JAKARTA,  RABU – Mau terkenal atau cari kenalan? Bergabunglah ke jejaring sosial  seperti Facebook yang punya lebih dari 750 juta pengguna aktif. Atau unggah video kamu ke YouTube yang setiap hari diakses 490 juta pengguna. Mau jualan? Manfaatkan Twitter. Juga bisa via jejaring sosial atau blog. Relatif murah dan mudah dibandingkan beriklan, berpromosi dan berjualan via jalur tradisional.

Kehebatan jejaring sosial ini juga diakui oleh 1700 CMO (chief marketing officer) dari 64 negara dan 19 industri yang disurvei oleh IBM. Sejumlah 82% CMO mengaku sudah berencana untuk meningkatkan penggunaan jejaring sosial dalam 3 – 5 tahun mendatang. Namun saat ini baru 26% dari mereka yang memanfaatkan blog. Sementara 42% sudah memanfaatkan ulasan pihak ketiga dan 48% memanfaatkan ulasan pelanggan untuk membantu menetapkan strategi pemasaran mereka.

Sayangnya lebih dari 50% CMO menyatakan belum siap mengelola kekuatan-kekuatan pasar yang utama – mulai dari media sosial sampai kolaborasi jejaring sosial dan pengaruh pelanggan yang semakin hari semakin kuat. Padahal, kata Widita Sardjono, Country Leader, Global Business Services, IBM Indonesia dalam siaran persnya, media sosial membawa perubahan permanen dalam cara kita menjalin hubungan dengan pelanggan. Mayoritas CMO memang sudah sadar bahwa ada pergeseran penting dalam cara mereka berhubungan dengan pelanggan. Akan tetapi mereka ragu-ragu tentang kesiapan bagian pemasarannya dalam menghadapi perubahan tersebut. Mayoritas bahkan merasa tidak punya pengaruh kuat di bidang pengembangan produk, penetapan harga dan pemilihan jalur penjualan. Lebih dari 80% CMO yang disurvei pun masih berfokus pada sumber informasi tradisional, seperti riset pasar dan tolak ukur kompetitif, dan 68% masih mengandalkan analisa kampanye untuk mengambil keputusan strategis.




cari di database kami: